PEDANG SAKTI

Rabu, 23 Januari 2013


PEDANG SAKTI
“DENDAM”
 

           Dahulu kala pada zaman kerajaan, sering terjadi peperangan antar kerajaan yang tidak hanya dilatari oleh perebutan wilayah kekuasaan tetapi juga sering dilatari ole hrs ego diantara para pemimpin kerajaan yang menganggap diri mereka hebat. Lantaran memiliki kesaktian yang tak dimiliki oleh orang pada umumnya, hal itu pulalah yang melatari peperangan antara kerajaan Padana dan kerajaan Taruna dua kerajaan yang cukup besar pada saat itu yang telah berperang kurang lebih satu abad ! Akhirnya raja satria, raja terakhir kerajaan Padana memimpin pasukannya untuk menangkap sang raja “penjajah” dari kerajaan Taruna, yaitu raja Soka, raja Satria dan pasukannya menyerbu kerajaan Taruna. Peperangan pun tak terhindarkan raja Satria dan pasukannya berhasil melumpuhkan perlawanan pasukan kerajaan Taruna. Raja Soka dengan pakaian perang dan pedang sakti di tangannya, mendatangi raja Satria dan pasukannya yang telah menawan sisa-sisa prajurit kerajaan Taruna.

Raja Satria                   : Menyerahlah …….kau hanya tinggal sendirian sekarang
Raja Soka                    : (sambil menepuk dada)
                                      Aku raja Soka “sang raja penjajah” tidak akan menyerah, walau
  apapun yang terjadi
Raja Satria                   : Baiklah …… ternyata kau lebih memilih kematian
Raja Soka                    : Kau sangat percaya diri Satria. Apa kau sanggup membunuhku
Raja Satria                   : Kenapa tidak ……aku punya pedang hebat ditanganku dan
  kujamin kau tidak akan selamat dari pedangku
Raja Soka                    : Kalau begitu buktikanlah ……aku juga ingin tahu seberapa hebat
  kemampuanmu
Raja Satria                   : (mengangguk sambil tersenyum)

           Kemudian kedua raja itupun sama-sama menggunakan pedang mereka dan bertarung, pertarungan pun berlangsung sengit, setelah bertarung agak lama. Akhirnya raja Satria berhasil menebus leher raja Soka, raja Sika pun jatuh dan sekarat.

Raja Soka                    : Boleh jadi, kau sekarang membunuhku, tpi dendam diantara kita
  akan terus berlanjut sampai anak cucu kita yang terakhir
  (setelah berkata seperti itu, raja Soka pun menghembuskan napas
  yang terakhir)
Raja Satria                   : Prajurit …..! Bawa mayatnya, lalu kuburkan dan simpan pedang
  itu di kerajaan kita
Prajurit                         : Baik
Raja Satria                   : Kalian berangkatlah duluan. Aku akan pergi ke goa

           Setelah memberikan perintah, raja Satria pergi menuju goa tak lama kemudian ia sampai, lalu masuk dalam goa dan berjalan kea rah dinding goa. Raja Satria lalu menancapkan pedangnya ke dinding goa sambil berkata “hanya keturunanku yang akan atau berhak memiliki pedang ini untuk selama-lamanya”. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan goa itu untuk kembali ke kerajaan. Ratusan tahun telah berlalu dan kini kehidupan pun modrn, malam itu kira-kira pukul delapan malam, Jerry seorang pekerja di perusahaan kontraktor baru saja pulang dan tiba dirumahnya dengan motor Harley, ia pun lalu menuju ke kamarnya dan langsung berbaring tidur karena kelelahan dalam tidurnya ia bermimpi berada dalam sebuah ruangan yang gelap dan bertemu dengan sosok seorang kakek yang sangat asing dimatanya berjanggut putih panjang dengan jubah hitam.

Kakek                          : Kau adalah keturunan terakhirku ……sudah saatnya kau
  menuntaskan dendam yang sudah lama tertunda
Jerry                             : Siapa kau
Kakek                          : Aku adalah leluhurmu dan  kau adalah generasi terakhirku, di
  dalam tubuhmu mengalir darahku
Jerry                             : Tidak mungkin (agak heran)
                                      Apa buktinya
Kakek                          : Kau mewarisi ilmuku, tubuhmu kuat dan tidak akan terluka jika
  terkena senjata apapun
                                      kau juga memiliki pedang hebat berumur ratusan tahun
Jerry                             : Benarkah ?
Kakek                          : Iya dan tugasmu sekarang adalah menemukan pedang itu, untuk
  menuntaskan dendam terakhirku lakukanlah keturunanku

           Sosok kakek pun lenyap dari hadapan Jerry, seketika itu pula Jerry terbangun dari tidurnya, ia lalu duduk dn mengusap kedua tangannya kewajahnya.

Jerry                             : Apa benar yang dikatakan kakek tadi dalam mimpiku ?
                                      Jika benar …..maka apa yang pernah dikatakan orang tuaku
  sebelum meninggal “bahwa moyangku adalah seorang raja dan
  dalam diriku mengalir darah raja” adalah benar
  Tapi apa benar aku mewarisi kekuatan leluhurku, aku harus
  membuktikannya

           Jerry pun lalu mengambil sebuah samurai kecil dilemarinya, lalu menebaskan samurai itu ketangannya sendiri, ia pun merasa kaget dan juga senang mengetahui dirinya anti terhadap senjata, ia pun lalu berbaring di tempat tidur sambil tersenyum, ia lalu memejamkan matanya dan tidur. Besok paginya dengan menggunakan motor Harley ia menuju ke perusahaan tempat ia bekerja. Sesampainya di sana ia melihat teman-temannya berkumpul membicarakan sesuatu.

Jerry                             : (menghampiri)
                                      Hey …….ada apa ini pada ngumpul
Teman 1                       : Ini …..lagi bicarakan soal pedang
Jerry                             : (heran) pedang
Teman 2                       : Iya …. Jadi baru-baru ini, telah ditemukan sebuah pedang yang
  sudah berumur ratusan tahun
Jerry                             : Lalu …..dimana pedang itu ditemukan ?
Teman 3                       : Menurut informasi …… pedang ini terkubur di bekas lokasi yang
  diduga bekas sebuah kerajaan. Dan anehnya …..pedang ini
  ditemukan dalam kondisi bagus seperti pusaka-pusaka yang
  terawatt pad umumnya
Jerry                             : Tapi ……pedang itukan sudah berumur ratusan tahun
Teman 4                       : Benar ……dan itulah yang membuat banyak orang tertarik untuk
  melihatnya
Jerry                             : Lalu …..dimana pedang itu sekarang ?
Teman 1                       : Pedang itu sekarang di simpan di sebuah museum
Jerry                             : (terdiam dan berkata dalam hati)
                                      (Pedang itu adalah milik leluhurku, hanya aku yang berhak
  menyimpannya, aku harus mengambilnya, untuk menuntaskan
  dendam leluhurku)

           Sementara itu, ditempat lain, Andre sudah berpakaian rapi dan hendak berangkat kerja ke kantor, ia pun menuju ke mobil sedan miliknya dan berangkat. Namun ditengah perjalanan ketika sedang asyik mengemudi, tiba-tiba muncul sebuah truk dari arah yang berlawanan dengan kecepatan tinggi ia pun kaget dan berusaha menghindari tabrakan, tapi justru mobilnya tergelincir dan terbalik. Andre pingsan tak sadarkan diri dalam mobil beberapa waktu kemudian ia pun sadar dan sudah berada di rumah sakit.

Andre                           : (membuka mata)
                                      Dimana aku
                                      (ia pun bangun lalu jalan keluar kamar dan seseorang suster tiba-
  tiba menghampirinya)
Suster                           : Maaf …….saudara tidak boleh ke mana-mana dan harus istirahat
Andre                           : Saya tahu suster …….tapi …….percayalah saya baik-baik saja
Suster                           : Tapi dokter mengatakan anda harus istirahat untuk pemeriksaan
  lebih lanjut
Andre                           : Saya mengerti ……tapi anda lihat sendirikan suster saya baik-
  baik saja
Suster                           : Maaf …..tapi dokter telah memerintahkan demikian
Andre                           : Baiklah ……baiklah
                                      (lalu mengantarkan Andre ke kamar)

           Malamnya kira-kira pukul tujuh dengan pakaian serba hitam, layaknya seorang bandit, Jerry pun berangkat dari rumah menuju ke museum dengan motor Harley miliknya. Sesampainya di depan museum, ia melihat beberapa mobil petugas yang diparkir di depan museum, ia pun lalu memarkir motornya dan masuk ke dalam museum di sana ia melihat para petugas, para pegawai museum. Para pengunjung dan para wartawan yang sedang mengambil gambar pedang tersebut, dengan gagah ia berjalan mendekati pedang itu, kemudian seorang petugas yang curiga dengan penampilan Jerry, langsung menghampirinya.

Petugas 1                     : (memegang bahu Jerry)
                                      Maaf ......anda tak boleh terlalu dekat seperti ini
Jerry                             : (berbalik, lalu mencekik leher petugas itu dengan tangan kirinya)
                                      Pedang ini milik leluhurku
                                      (lalu menghajar wajah petugas itu dengan tangan kanan, petugas
  itupun lalu terpental dan pingsan)

           Para pegawai, pengunjung dan para wartawan terkejut melihat kejadian tersebut. Mereka pun panik lalu meninggalkan museum tersebut dengan menggunakan senjata para petugas memberikan peringatan pada Jerry.

Jerry                             : (hanya memandang para petugas tersebut)
Petugas 1                     : Hentikan ...!
                                      Atau kami akan menembakmu
Jerry                             : Persetan dengan kalian
                                      Pedang ini milik leluhurku dan hanya akulah yang berhak untuk
  menyimpannya
                                      (ia pun lalu mengambil pedang itu dan hendak pergi)
Para Petugas                : (lalu menembaki Jerry dengan beberapa tembakan, mereka pun
  kaget melihat Jerry yang masih berdiri tegak dengan tubuh yang
  utuh tanpa mengeluarkan darah setetespun)
Jerry                             : (hanya tersenyum)
Para Petugas                : (lalu menembaki Jerry kembali tanpa henti setelah dihujani
  peluru, akhirnya Jerry pun jatuh terkapar mendatangi Jerry)
Petugas 1                     : Kurasa dia sudah mati
Petugas 2                     : Tentu saja ......kita menghujaninya dengan banyak peluru
Petugas 3                     : Tunggu dulu ......kenapa tubuhnya tidak mengeluarkan darah
Petugas 4                     : Sudahlah ...... kita bawa saja mayatnya ke rumah sakit
Pegawai Museum         : (mendekati seorang petugas)
                                      Terima kasih pak
Petugas 1                     : Tidak apa-apa
                                      Sudah kewajiban kami, kami permisi dulu
Pegawai Museum         : Silahkan

           Para petugas polisi itupun pergi meninggalkan Museum tersebut sementara itu mayat Jerry telah di bawa ke rumah sakit dan telah di simpan di ruang penyimpanan mayat. Tak lama kemudian datang seorang wartawan dengan membawa kamera untuk mengambil gambar mayat Jerry wartawan itupun diantar oleh petugas rumah sakit menuju ke ruang penyimpanan mayat. Petugas itupun kemudian membuka lemari maya, namun tiba-tiba ia terkejut melihat mayat Jerry bangun dan mencekik dirinya sang wartawan tak ingin kehilangan moment berharga. Pada saat itulah dengan menggunakan kameranya ia langsung mengambil gambar kejadian tersebut usai membunuh petugas rumah sakit, Jerry pun mengincar wartawan tersebut. Ia lalu mendekatinya, namun sang wartawan hanya terdiam ketakuta dan menjatuhkan kameranya, Jerry lalu mencekik wartawan tersebut hingga tewas. Setelah itu ia pun keluar meninggalkan ruangan tersebut. Namun beberapa orang petugas rumah sakit tersebut yang melihatnya kemudian berlari ketakutan sambil berteriak ‘mayat hidup” tolong ada “mayat hidup”, Jerry pun terus melanjutkan jalannya dengan tenang hendak meninggalkan rumah sakit tersebut. Namun sama halnya dengan para petugas rumah sakit, orang-orang yang berada di rumah sakit kaget dan merasa takut melihat sosok Jerry yang bewajah garang. Kemudian beberapa orang petugas rumah sakit lainnya mengejar Jerry dan berusaha melumpuhkan Jerry yang mereka anggap sebagai mayat hidup. Perkelahian pun terjadi tetapi dengan kekuatan yang dimiliki Jerry para petugas rumah sakit itupun nampaknya bukanlah lawan yang sepadan bagi Jerry, Jerry pun berhasil menghajar para petugas rumah sakit tersebut. Jerry pun dengan tenang dan gagah terus melanjutkan langkahnya, ia pun sampai di lobi rumah sakit namun dua orang petugas keamanan rumah sakit tersebut berusaha menghadang dan menghentikan Jerry.

Satpam 1                      : Berhenti .....(sambil menodongkan pentungan)
Jerry                             : (hanya tersenyum dan menggelengkan kepala)
Satpam 2                      : (menghajar kepala Jerry dengan pentungan)
Jerry                             : (tersenyum sambil memandang satpam tersebut)
Satpam 1                      : (lalu ganti menghajar wajah Jerry dengan pentungan)
Jerry                             : (melotot pada dua satpam tersebut, lalu mencekik leher kedua
  satpam tersebut hingga tewas, ia pun lalu pergi meninggalkan
  rumah sakit dan pergi membawa mobil orang yang di parkir di 
  depan rumah sakit tersebut)

           Sementara itu kira-kira pukul setengah sepuluh malam, Andre terlihat keluar dari rumah sakit, ia pun berjalan sambil menunggu taksi tak lama kemudian terlihat sebuah taksi. Andre pun langsung memberhentikan taksi tersebut untuk menuju pulang ke rumah. Namun beberapa kilometer sebelum sampai di rumahnya, tiba-tiba taksi yang ditumpanginya di hadang oleh lima orang preman bersenjata tajam. Sang supir pun merasa takut dan menghentikan taksinya.

Supir                            : Mimpi apa aku semalam ?
Andre                           : Siapa mereka pak ?
Supir                            : Tidak tahu ......tapi sepertinya mereka punya niat jahat terhadap
  kita
Andre                           : Semoga tidak terjadi apa-apa

           Kelima orang preman tersebut lalu mendekati taksi dan menyuruh supirnya untuk keluar.

Preman 1                      : (sambil menggedor pintu mobil)
                                      Hey ....cepat keluar
Supir                            : (lalu keluar dari taksi)
Andre                           : (keluar pula dari taksi)
Preman 2                      : (menodongkan pisau ke wajah supir)
                                      Serahkan kunci mobil taksi ?
Supir                            : (menyerahkan kunci mobil taksi)
Preman 3                      : (menodongkan pisau ke wajah Andre)
                                      Cepat  berikan semua yang kau punya
Andre                           : Aku tidak punya apa-apa ........sungguh
Preman 2                      : (lalu menghunuskan pisaunya ke perut supir itu lima kali hingga
  tewas)
Andre                           : (memandang supir yang di tikam)
                                      Kalian keterlaluan .......
Preman 1                      : Kami akan melakukan hal yang sama padamu
Preman 3                      : (lalu menikam perut Andre berkali-kali)
Andre                           : (terjatuh sambil memegang perutnya)
Preman 3                      : (tiba-tiba heran melihat pisaunya tak berlumuran darah, kemudian
  empat orang preman lainnya memandangnya dengan heran)
                                      Gila ........dia tidak tembus senjata tajam
Andre                           : (heran melihat perutnya yang tak mengeluarkan setetes darahpun,
  lalu memandang kelima orang preman tersebut, kemudian berdiri)
Preman 2                      : (lalu menghampiri Andre dan menghajar wajah Andre, lalu
  membenturkan kepala Andre ke kaca mobil taksi tersebut, hingga
  kaca di mobil itu pecah, lalu memasukkan Andre ke dalam taksi
  di bangku belakang)
Preman 1                      : (pada saat yang bersamaan ia memasukkan mayat supir tersebut
  ke bangku depan mobil taksi tersebut, dia lalu menyalakan mobil
  tersebut, dia bermaksud agar mobil tersebut tersambar kereta
  ketika melewati rel yang memotong jalan tersebut)
Andre                           : (berusaha menghentikan laju mobil taksi tersebut, tapi sayang ia
  terlambat mobil pun melewati rel dan seketika itu pula taksi itu
  tersambar oleh kereta, taksi pun terdorong dan terbalik ke sisi rel,
  kereta terus melintas sementara taksi itupun ringsek, tapi lagi-lagi
  Andre selamat bahkan tak ada luka ditubuhnya, ia pun berhasil
  keluar dari taksi itu dengan napas terhela, ia melihat keadaan
  tubuhnya sendiri dengan heran sambil menggelengkan kepala)

           Ia pun kemudian berjalan selangkah demi selangkah menuju ke rumahnya. Akhirnya ia pun sampai di rumahnya, ia pun langsung menuju ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk di minum. Usai minum ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dapur.

Andre                           : (mengusap wajahnya)
                                      (melepas napas) Huhhhh.........ini kali kedua aku mengalami
  kecelakaan ........tapi .......tak sedikitpun tubuhku terluka. Apa
  yang aku alami sebenarnya ......apa aku tidak normal.....atau ini
  hanya sekedar ilusi, kejadian ini benar-benar sulit ku mengerti

           Tak lama kemudian muncul sosok seorang kakek tua berjanggut panjang dan berjubah putih panjang.

Kakek                          : Kau tidak perlu heran dan juga bingung
Andre                           : (terkejut)
                                      Siapa kau ?
Kakek                          : Aku adalah leluhurmu dan kau adalah generasi terakhirku dalam
  darahmu mengalir kekuatanku .......jadi kau tidak perlu heran
  dengan apa yang kau alami selama ini
Andre                           : Mustahil ....! aku tidak percaya ini
Kakek                          : Kau boleh percaya ataupun tidak percaya akan hal ini ....tapi satu
  hal yang harus kau tahu ada seorang generasi terakhir dari
  musuhku yang sedang berusaha mencari dan ingin membunuhmu.
Andre                           : Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan
                                      Pertama .... kau mengaku sebagai leluhurku
                                      Kedua ..... kau bilang kalau aku sedang diburu oleh orang yang
  terikat dendam denganmu. Ini benar-benar membuatku semakin
  bingung saja
Kakek                          : Nanti .......kau akan mengerti dengan sendirinya.......percayalah

           Kemudian sosok Kakek itupun hilang dari hadapan Andre, ia pun kemudian menuju ke kamarnya untuk istirahat karena telah ....Besok sorenya kira-kira pukul empat dengan membawa senjata kokang Jerry kembali mendatangi museum dengan menggunakan mobil Kijang dan berpakaian serba hitam. Dengan gagah sambil memegang senjata, ia pun berjalan memasuki museum, lalu ia pun menembaki pegawai museum dan menodongkan senjata pada seorang pegawai museum lainnya.

Jerry                             : Mana pedang itu
Pegawai                       : (dengan perasaan takut)
                                      Ada pak ?
Jerry                             : Cepat ambilkan untukku .....kalau tidak .....aku akan
                                     menghancurkan gedung ini
Pegawai                       : Baik pak
                                      (lalu pergi mengambil pedang tersebut, tak lama kemudian, ia pun
  kembali membawa pedang dan menyerahkannya pada Jerry)
  ini pedangnya
Jerry                             : (menerima pedang tersebut sambil tersenyum)
                                      Bagus .......!
                                      (lalu menembak pegawai museum tadi hingga tewas)

           Jerry kemudian keluar dari museum dan menuju mobilnya untuk memburu Andre, sementara di tempat lain Andre baru saja terlihat keluar dari kantor Akuntan tempat ia bekerja menuju mobilnya untuk pulang mobil itupun segera meninggalkan tempat tersebut, tak lama kemudian baru beberapa kilometer mobil Andre meninggalkan tempat kerjanya Jerry pun tiba-tiba muncul dengan mobilnya tepat dibelakang mobil Andre, ia pun langsung menembaki mobil Andre dengan senjata kokangnya dari belakang, Andre pun terkejut dan langsung tanjap gas, Jerry pun tak mau ketinggalan ia pun tancap gak dan terus membututi mobil Andre dan terjadilah kejar-kejaran. Akhirnya mereka tiba di pelabuhan Andre segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju ke sebuah gudang. Jerry pun mengikuti dengan membawa senjata kokang dan juga pedang. Andre pun bersembunyi di dalam gudang, Jerry lalu masuk ke gudang, namun ia tak mendapati Andre.

Jerry                             : Keluarlah ......! (dengan suara keras)
                                      Aku tahu kau bersembunyi .... mari kita tuntaskan dendam kita
Andre                           : (melihat dari persembunyian)
Jerry                             : (berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri)
Andre                           : (terus mengawasi Jerry)
                                      Jika benar apa yang dikatakan kakek itu tadi malam .... maka
  dialah orang yang dimaksud kakek tadi malam ......orang yang
  ingin membunuhku
Jerry                             : (berhenti berjalan, lalu meletakkan pedang dan sejantanya)
                                      Baiklah ......kalau kau takut ....aku tidak akan menggunakan
  senjata
                                      Keluarlah ......kita bertarung secara adil ......
                                      Apa lagi yang kau takutkan
Andre                           : (secara tidak sengaja melihat sebuah gergaji mesin disebelahnya)
                                      Terima kasih tuhan
                                      (lalu keluar dan mendatangi Jerry dengan gergaji mesin itu)
Jerry                             : (Tersenyum)
                                      Senjata yang bagus
Andre                           : (lalu memotong leher Jerry dengan gergaji mesin itu hingga
  putus, tetapi ia bingung melihat kepala dan tubuhnya masih
  bergerak, ia pun lalu meletakkan gergaji mesin itu dan mengambil
  senapan kokang Jerry, lalu pergi meningglkan tempat tersebut)
Jerry                             : (Tubuh dan kepalanya lalu menyatu kembali lalu ia berdiri
  kembali sambil tersenyum)
                                      Kau tidak akan bisa membunuhku ......akulah yang akan
  membinasakanmu
                                      (lalu menuju ke mobil untuk mengejar Andre)
Andre                           : (Terus mengemudikan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut,
  lalu ia terkejut melihat mobil Jerry sedang mengejarnya, ia pun
  lalu menghentikan mobilnya dan keluar memegang senjata tepat
  setelah mobl Jerry melintasi drum-drum yang berisi bensin,
  Andre menembaki drum-drum yang berisi bensin tersebut, hingga
  meledak, mobil Jerry pun ikut meledak terbakar dan Andre pun
  mengira bahwa Jerry pasti sudah mati terbakar dalam mobil yang
  meledak tadi, lalu menyandarkan tubuhnya ke mobil sambil
  mengatur napas, lalu meletakkan senjatanya ke dalam mobil, tiba-
  tiba ia terpana melihat Jerry keluat dari kobaran api, tanpa luka
  sedikit pun di sekujur tubuhnya, Andre pun ketakukan, ia cepat
  masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut untuk
  kembali ke rumahnya)
Jerry                             : (Terus berjalan menjauhi kobaran api, ia pun berhenti setelah
                                      melihat mobil Andre meninggalkan tempat itu ia pun lalu
                                      tersenyum)
                                      Cepat ataupun lambat ......aku pasti akan membunuhmu .....dan
  pada saat itulah .....kau takkan bisa lari lagi dariku ....walaupun
  hanya selangkah
                                      (ia pun lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut)

           Akhirnya kira-kira pukul tujuh malam. Andre tiba di rumahnya, ia langsung menuju ke dapur untuk minum, setelah itu ia duduk di ruang tamu sambil mengusap wajahnya.

Andre                           : Siapa sebenarnya yang aku hadapi ?
                                      Kenapa ia sulit untuk dibunuh ?
                                      Kalau begini caranya ...... aku bisa mati
                                      (Sambil menundukkan kepala)
                                      Apa yang harus aku lakukan ?

           Tak lama kemudian sosok kakek tiba-tiba muncul kembali di hadapan Andre.

Kakek                          : Dia bukan sulit untuk di bunuh ...... dia juga seperti manusia pada
  umunya ......hanya saja kau belum mengetahui letak
  kelemahannya dan juga senjata apa yang harus kau gunakan
Andre                           : Lalu ...... bagaimana carnya .....aku penggal kepalanya ..... dia pun
  tidak mati ...... lalu aku membakarnya ....... ia pun tidak mati .......
  bahkan terluka pun tidak
Kakek                          : Kau tidak perlu takut ........
                                      Sebenarnya kau dan dia hampir sama ...... kau tidak bisa
  melukainya begitu pun juga dia untuk membunuhnya ...... kau
  harus mengambil pedang sakti di sebuah goa
Andre                           : Apa itu pedang milikmu ?
Kakek                          : Benar ...... pedang itulah yang kugunakan untuk membunuh
  leluhurnya ratusan tahun silam ....... jika kau sudah mendapatkan
  pedang itu ....... baru kau bisa membunuhnya ...... caranya ...... kau
  tebaskan pedang itu ke lehernya, tetapi jangan sampai putus....
  dengan begitu dia akan mati ... untuk itu .... pergilah ! Ambil
  pedang itu dan hentikan dia.... sebelum jatuh banyak korban.
Andre                           : Tapi ..... aku tidak tahu dimana goa itu ?
Kakek                          : Jangan khawatir ....... akan ada kekuatan yang tak terlihat akan
  menuntunmu ke sana ..... pergilah sekarang juga ..... jangan buang
  waktu.
  (kemudian menghilang dari hadapan Andre setelah memberi
  petunjuk)
Andre                           : (Lalu ke kamar dan bersiap-siap untuk berangkat menuju goa)

           Andre pun lalu menuju ke mobilnya dan berangkat, setelah larut malam, Andre tiba di tempat tujuan, kemudian ia berjalan selangkah demi selangkah menuju goa. Akhirnya ia sampai di goa itu ia pun lalu masuk ke dalam goa dan melihat sebuah pedang berkilau yang tertancap di dinding goa, ia pun menghentikan jalannya sejenak.

Andre                           : Apa itu pedang yang di maksud ?
                                      Kalau begitu .... aku tidak boleh buang waktu
                                      (lalu mengambil pedang itu dan meninggalkan goa itu menuju ke
  mobilnya untuk pulang)

           Paginya kira-kira pukul delapan beberapa orang polisi yang dipimpin oleh Sersan Janie menggrebek rumah Jerry. Namun mereka tidak menemukan apa-apa.

Petugas 1                     : Lapor ...! kami tidak menemukan apa-apa
Sersan Janie                 : (memeriksa kamar Jerry)
                                      (kemudian ia tertegun melihat sebuah foto bertuliskan “Andre”
  disilang spidol merah)
                                      (kemudian menemui petugas)
                                      Kalian ikut aku

           Sersan Janie pun pergi bersama beberapa orang petugas polisi menuju ke rumah Andre. Sementara itu Andre baru saja tiba di rumahnya. Ia pun langsung duduk di ruang tamu dan memperhatikan pedang itu dengan seksama, kemudian ia meletakkannya ke meja ia pun lalu hendak ke dapur untuk minum tapi belum ia sampai ke dapur, ia mendengar suara orang mengetuk pintu, ia pun segera menyembunyikan pedang itu ke kamar, setelah itu ia membukakan pintu.

Andre                           : (membuka pintu)
Sersan Janie                 : (ditemani beberapa orang petugas dibelakangnya)
                                      Maaf ...... apa anda yang bernama Andre
Andre                           : Benar ........ ada apa ?
                                      Silahkan masuk ?
Sersan Janie                 : (ditemani beberapa orang petugas lalu masuk dan duduk)
                                      Sebelumnya kami minta maaf ..... karena telah mengganggu anda
Andre                           : Tidak apa-apa
                                      Ada apa sebenarnya ?
Sersan Janie                 : Begini ...... ada seorang pembunuh yang masih buron .... ingin
  membunuh anda
Andre                           : (pura-pura tidak tahu)
                                      Benarkah ?
Sersan Janie                 : Benar ..... sebelumnya di telah membunuh polisi, pegawai
  museum, pegawai rumah sakit dan juga seorang wartawan dan dia
  juga telah mencuri sebuah pedang kuno yang berumur ratusan
  tahun.
Andre                           : Lalu apa hubungannya denganku ..... kenapa dia ingin
  membunuhku
Sersan Janie                 : Itulah yang sedang kami selidiki ..... dan saya berharap kau bisa
  ikut dengan kami, demi keselamatanmu
Andre                           : Baiklah .......

           Sersan Janie dan beberapa orang petugas polisi lalu membawa Andre ke sebuah apartemen, sementara itu di sebuah gudang di pelabuhan Jerry sedang memasang lilin-lilin yang di letakkan di sisi gudang itu, lilin tu akan dinyalakan pada saat bertarung dengan Andre nanti malam, karena Jerry sudah tahu kalau Andre telah mengambil pedang milik leluhurnya. Jerry lalu menodongkan pedang layaknya prajurit yang akan berperang.

Jerry                             : (menodongkan pedang)
                                      Hari ini adalah hari terakhir penantian dendam
                                      Hari ini aku akan menebus dendam leluhurku yang telah tertunda
  selama ratusan tahun
                                      Aku akan mengambil jantungnya untuk pesta kemenanganku
                                      (lalu meletakkan pedangnya di atas meja kecil)

           Sorenya kira-kira pukul tujuh di Apartemen milik Janie, Andre, Sersar Janie dan beberapa orang petugas polisi sedang menyantap Pizza. Kemudian telepon pun berdering, Andre pun lalu mengangkat telepon.

Andre                           : Halo ?
Jerry                             : Apa kau sudah siap ?
                                      Aku tahu kau telah mengambil pedang leluhurku
Andre                           : Bagaimana kau tahu ?
Jerry                             : Aku bisa mengetahuinya dengan telepati ..... itulah sebabnya aku
  tahu .... dan itu pula yang membuatku tahu ..... kalau sekarang kau
  berada di sebuah Apartemen milik seorang Sersan Polisi ..... dan
  sekarang  ..... kau tidak punya alasan untuk bersembunyi dariku
Andre                           : Aku tidak takut padamu ...... dan harusnya kaulah yang takut
  padaku
Jerry                             : (tertawa)
                                      Kenapa aku harus takut padamu ?
Andre                           : Karena aku memiliki pedang sakti ...... pedang yang digunakan
  untuk membunuh leluhurmu
Jerry                             : Lain dulu ..... lain sekarang
                                      Asal kau tahu ..... petarungan kali ini berbeda dengan pertarungan
  leluhurku kita ratusan tahun lalu
                                      Sekarang aku lebih kuat darimu...... dan kau telah menyaksikan
  itu .... jadi ..... kaulah yang akan mati
Andre                           : (tersenyum)
                                      Kau tidak perlu menakutiku seperti itu .... dan kau pasti pernah
  mendengar sebuah ungkapan “sejarah sangat sulit untuk
  ditundukkan” dan kau butuh keajaiban untuk menaklukan sejarah
Jerry                             : Kalau kau sudah seyakin itu ..... datanglah ..... aku sudah tidak
  sabar untuk mengambil jantungmu
Andre                           : (menutup telepon)

           Sementara Sersan Janie dan beberapa orang petugas polisi yang mendengar percakapan Andre di telepon hanya terdiam memandang Andre.

Sersan Janie                 : Bisa kau jelaskan pada kami
Andre                           : Tidak ..... kalian tidak akan mengerti ?
Sersan Janie                 : Ternyata semua ini berhubungan dengamu kenapa tidak kau
  jelaskan pada kami
Andre                           : Aku sudah bilang .... kalian tidak akan mengerti awalnya aku saja
  tidak percaya akan hal ini
Sersan Janie                 : Tapi adalah tanggung jawab kami untuk menuntaskan semua ini
Andre                           : Tidak .... kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa ?
Sersan Janie                 : Baiklah ! kalau begitu ...... jelaskan pada kami
Andre                           : Begini....... dia mengejarku karena ingin membalas dendam
Sersan Janie                 : Apa kau sudah membunuh orang terdekatnya
Andre                           : Bukan ...... dahulu leluhurku dan leluhurnya adalah seorang Raja
                                      Kemudian mereka terlibat sebuah pertarungan, dalam pertarungan
  itu leluhurku berhasil membunuh leluhurnya, tapi sebelum mati ia
  bilang akan menuntut dendam pada keturunan leluhurku dan itu
  sebabnya pula kenapa dia (Jerry) mencuri pedang kuno di
  museum pedang itulah yang digunakan leluhurnya dulu untuk
  bertarung dengan leluhurku.
Sersan Janie                 : Jadi maksudmu ..... tujuan utamanya mencuri pedang itu adalah
  untuk membalas dendam leluhurnya padamu
Andre                           : Benar .... dan aku harus menghadapinya sekarang
Sersan Janie                 : Tidak ....... bukan kau yang akan menghadapinya ......tetapi kami
Andre                           : Apa (terkejut)
                                      Jangan gegabah ...... peluru dan borgol yang kau siapkan tidak
  akan mampu menahannya dia kebal terhadap senjata ..... bahkan
  aku membakarnya ...... tapi dia tidak terluka sedikit pun, jadi
  menurutku ..... kalian tidak usah ikut campur dalam hal ini .....
  serahkan saja padaku ...... biar aku yang menangani semua ini dan
  berjanjilah padaku .... cukup kalian saja yang tahu masalah ini
  dan juga aku dan jangan orang lain tahu
Sersan Janie                 : Terima kasih atas nasehatnya ..... tapi semuanya sudah jelas .....
  kau tunggu disini saja ..... biar aku yang akan meringkusnya
                                      Di mana dia sekarang ?
Andre                           : (memberitahukan dengan berat hati)
                                      Di sebuah gudang di pelabuhan ..... jangan salahkan aku jika
  terjadi apa-apa
Sersan Janie                 : Tidak ...... tidak akan
                                      Petugas ikut aku ..... kita harus segera ke sana untuk
  meringkusnya
                                      (mereka pun menuju ke mobilnya untuk berangkat ke pelabuhan
  guna menangkap Jerry)
 Andre                          : (menggelengkan kepala, tak lama kamu dan ia pun meninggalkan
  Apartemen dan pulang ke rumahnya untuk mengambil pedang
  karena ia khawatir terjadi sesuatu dengan Sersan Janie dan
  beberapa orang petugas polisi lainnya)

           Sementara itu di gudang tempat persembunyian Jerry, lilin-lilin pun telah di nyalakan sebagai pertanda bahwa pertarungan dengan musuhnya. Andre akan berlangsung, Jerry sendiri sedang berdiri di hadapan pedang yang diletakkannya di atas sebuah meja kecil sambil memejamkan kedua matanya dan juga sambil tulak pinggang, tak lama kemudian Sersan Janie dan beberapa orang petugas polisi yang bersamanya langsung masuk menggerebek gudang tersebut, Sersan Janie pun mendapati Jerry di sana.

Sersan Janie                 : (menodongkan senjata ke arah Jerry)
                                      Jangan bergerak ! menyerahlah ....!
Jerry                             : (membuka mata dan berbalik)
                                      Aku tidak mengundang kalian .... jadi sebaiknya pergilah sebelum
  aku berubah pikiran
Sersan Janie                 : Sudah ingin tertangkap saja kau masih sombong petugas borgol
  dia dan bawa ke kantor polisi
Jerry                             : (melotot)

           Kemudian dua orang petugas tadi membawa borgol dan menghampiri Jerry, tapi Jerry yang kelihatan marah langsung mencekik leher dua orang petugas tadi, sementara Sersan Janie dan dua orang petugas lainnya hanya diam seraya heran melihat kejadian tersebut, dua orang petugas tadi pun tewas. Sementara Sersan Janie dan dua orang petugas laiinya langsung mengeluarkan pistol dan menembaki Jerry, setelah diberondong peluru Jerry pun jatuh terkapar. Sersan Janie dan dua orang petugas tadi kemudian mendekati Jerry, untuk memastikan apakah dia sudah tewas atau belum namun mereka terkejut melihat tubuh Jerry yang tak mengeluarkan setetes darah pun. Mereka saling memandang satu sama lain seraya heran dan tiba-tiba rasa heran mereka pun terjawab, Jerry tiba-tiba bangkit kembali di hadapan mereka, Jerry pun langsung mencekik leher Sersan Janie, Sersan Janie pun terkejut dan berteriak “Ahhh .... kemudian petugas polisi tadi coba menghajar Jerry dengan tangan kanan tetapi berhasil di tangkis dan dipelintir oleh tangan kiri Jerry, setelah itu Jerry pun membenturkan kepalanya ke wajah petugas tadi, petugas tadi pun jatuh terpental dan pingsan, lalu seorang petugas polisi satunya juga coba menghajar Jerry. Namun Jerry lebih dulu menyerangnya, Jerry menendang perut petugas tadi hingga terpental, petugas itupun pingsan, sementara Sersan Janie sudah tak berdaya menahan cekikan Jerry, wajahnya pun memerah.

Jerry                             : (mencekik leher Sersan Janie dengan tangan kanan)
                                      Seandainya kau mau mendengarkan perkataanku tadi .....
                                      Mungkin aku masih bisa mengampunimu ..... tapi ....
                                      Karena kau telah berusaha merusak pestaku .... maka aku
  membunuhmu

Tiba-tiba Andre datang dengan membawa pedang milik leluhurnya.

Andre                           : Hentikan ...!
                                      Kau hanya menginginkan aku ..... jadi lepaskan dia
Jerry                             : (terkejut)
                                      Untuk kau cepat datang ..... karena kalau tidak gadis ini pasti
  sudah mati di tanganku
                                      (lalu melepaskan cekikannya)
Sersan Janie                 : (lalu berjalan mendekati Andre sambil memegang lehernya
  kesakitan)
Andre                           : Kau tidak apa-apa ?
Sersan Janie                 : Untung kau datang ..... terlambat sedikit saja lain ceritanya
Andre                           : Sekarang kau percaya bukan
                                      Menyingkirlah ..... biar aku yang selesaikan ini
Sersan Janie                 : Berhati-hatilah .....!
                                      (lalu menyingkir ke sisi gudang)
Andre                           : Menyerahlah selagi ada kesempatan ...... sebelum kau menyesal
Jerry                             : (hanya tersenyum)
                                      Kelihatannya kau sangat percaya diri
                                      Apa kau sanggup membunuhku
Andre                           : Kenapa tidak ?
                                      Asal kau tahu .... kau telah mengulangi kesalahan yang di buat
  oleh leluhurmu ..... yaitu tidak mau menyerah di saat yang tepat
Jerry                             : (tersenyum)
                                      Kau benar-benar tidak jauh berbeda dengan leluhurmu, sangat
  percaya diri
                                      (lalu mengedepankan pedang seraya siap bertempur)
Andre                           : (bersiap dengan pedangnya)

Lalu mereka pun mendekat dan mulai bertarung dengan pedang.

           Pertarungan pun berjalan sengit dan seimbang, akhirnya setelah bertarung agak lama, Jerry berhasil melukai tubuh Andre dengan pedangnya, Jerry pun menendang tubuh Andre dengan kaki kanan hingga terlentang. Andre pun bangkit, ia lalu coba menebaskan pedangnya, tetapi Jerry lebih dulu menebas rusuk Andre lalu menghajar wajah Andre dengan tangan kiri. Membuat Andre jatuh tertelungkup dan hidung Andre pun mengeluarkan darah. Pada saat itulah ia terdiam sejenak ia teringat apa yang pernah di katakan leluhurnya tentang kelemahan Jerry. Andre pun bangkit kembali, Jerry lalu menebaskan pedangnya ke arah kepala Andre, tetapi Andre berhasil menahan dengan pedangnya, ia lalu menendang perut Jerry dengan kaki kiri, dilanjutkan dengan tendangan balik kaki kanan ke arah wajah Jerry, membuat Jerry terjatuh. Jerry pun berusaha bangkit kembali sambil menghapus darah yang keluar dari hidungnya, ia pun coba lagi-lagi menebaskan pedangnya ke arah kepala Andre, namun Andre lebih cepat menebaskan pedangnya ke leher Jerry. Jerry pun mundur dan jatuh berlutut di topang pedang, setelah itu ia pun tersungkur tak bernyawa lagi. Andre kemdian mengambil pedang Jerry, ia lalu menghampiri Sersan Janie.

Sersan Janie                 : Apa kau yakin dia sudah mati ?
Andre                           : Tentu ..... bawalah pedang ini dan letakkan kembali di museum
Sersan Janie                 : Terima kasih ..... aku berhutang padamu
Andre                           : Tidak apa-apa
Sersan Janie                 : Bagaimana kalau besok aku mentraktirmu minum kopi di cafe
Andre                           : Aku tidak bisa menolak tawaran wanita cantik sepertimu .....
                                      Oh maaf ..... maksudku Sersan Janie
Sersan Janie                 : (hanya tertawa)
                                      (lalu pergi membawa pedang dengan mobilnya meninggalkan
  gudang tersebut)


TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar