PEDANG SAKTI
“DENDAM”
Dahulu kala pada zaman
kerajaan, sering terjadi peperangan antar kerajaan yang tidak hanya dilatari
oleh perebutan wilayah kekuasaan tetapi juga sering dilatari ole hrs ego
diantara para pemimpin kerajaan yang menganggap diri mereka hebat. Lantaran
memiliki kesaktian yang tak dimiliki oleh orang pada umumnya, hal itu pulalah
yang melatari peperangan antara kerajaan Padana dan kerajaan Taruna dua
kerajaan yang cukup besar pada saat itu yang telah berperang kurang lebih satu
abad ! Akhirnya raja satria, raja terakhir kerajaan Padana memimpin pasukannya
untuk menangkap sang raja “penjajah” dari kerajaan Taruna, yaitu raja Soka,
raja Satria dan pasukannya menyerbu kerajaan Taruna. Peperangan pun tak
terhindarkan raja Satria dan pasukannya berhasil melumpuhkan perlawanan pasukan
kerajaan Taruna. Raja Soka dengan pakaian perang dan pedang sakti di tangannya,
mendatangi raja Satria dan pasukannya yang telah menawan sisa-sisa prajurit
kerajaan Taruna.
Raja Satria :
Menyerahlah …….kau hanya tinggal sendirian sekarang
Raja Soka : (sambil
menepuk dada)
Aku raja Soka “sang raja penjajah” tidak akan
menyerah, walau
apapun yang terjadi
Raja Satria :
Baiklah …… ternyata kau lebih memilih kematian
Raja Soka : Kau
sangat percaya diri Satria. Apa kau sanggup membunuhku
Raja Satria : Kenapa
tidak ……aku punya pedang hebat ditanganku dan
kujamin kau tidak akan selamat dari pedangku
Raja Soka : Kalau
begitu buktikanlah ……aku juga ingin tahu seberapa hebat
kemampuanmu
Raja Satria : (mengangguk
sambil tersenyum)
Kemudian kedua raja itupun
sama-sama menggunakan pedang mereka dan bertarung, pertarungan pun berlangsung
sengit, setelah bertarung agak lama. Akhirnya raja Satria berhasil menebus
leher raja Soka, raja Sika pun jatuh dan sekarat.
Raja Soka : Boleh
jadi, kau sekarang membunuhku, tpi dendam diantara kita
akan terus berlanjut sampai anak cucu kita yang terakhir
(setelah berkata seperti itu, raja Soka pun menghembuskan napas
yang terakhir)
Raja Satria : Prajurit
…..! Bawa mayatnya, lalu kuburkan dan simpan pedang
itu di kerajaan kita
Prajurit :
Baik
Raja Satria : Kalian
berangkatlah duluan. Aku akan pergi ke goa
Setelah memberikan
perintah, raja Satria pergi menuju goa tak lama kemudian ia sampai, lalu masuk
dalam goa dan berjalan kea rah dinding goa. Raja Satria lalu menancapkan
pedangnya ke dinding goa sambil berkata “hanya keturunanku yang akan atau
berhak memiliki pedang ini untuk selama-lamanya”. Setelah itu ia pun pergi
meninggalkan goa itu untuk kembali ke kerajaan. Ratusan tahun telah berlalu dan
kini kehidupan pun modrn, malam itu kira-kira pukul delapan malam, Jerry
seorang pekerja di perusahaan kontraktor baru saja pulang dan tiba dirumahnya
dengan motor Harley, ia pun lalu menuju ke kamarnya dan langsung berbaring
tidur karena kelelahan dalam tidurnya ia bermimpi berada dalam sebuah ruangan
yang gelap dan bertemu dengan sosok seorang kakek yang sangat asing dimatanya
berjanggut putih panjang dengan jubah hitam.
Kakek : Kau
adalah keturunan terakhirku ……sudah saatnya kau
menuntaskan dendam yang sudah lama tertunda
Jerry :
Siapa kau
Kakek : Aku
adalah leluhurmu dan kau adalah generasi
terakhirku, di
dalam tubuhmu mengalir darahku
Jerry :
Tidak mungkin (agak heran)
Apa buktinya
Kakek : Kau
mewarisi ilmuku, tubuhmu kuat dan tidak akan terluka jika
terkena senjata apapun
kau juga memiliki pedang hebat berumur
ratusan tahun
Jerry :
Benarkah ?
Kakek : Iya
dan tugasmu sekarang adalah menemukan pedang itu, untuk
menuntaskan dendam terakhirku lakukanlah keturunanku
Sosok kakek pun lenyap
dari hadapan Jerry, seketika itu pula Jerry terbangun dari tidurnya, ia lalu
duduk dn mengusap kedua tangannya kewajahnya.
Jerry :
Apa benar yang dikatakan kakek tadi dalam mimpiku ?
Jika benar …..maka apa yang pernah dikatakan
orang tuaku
sebelum meninggal “bahwa moyangku adalah seorang raja dan
dalam
diriku mengalir darah raja” adalah benar
Tapi apa
benar aku mewarisi kekuatan leluhurku, aku harus
membuktikannya
Jerry pun lalu mengambil
sebuah samurai kecil dilemarinya, lalu menebaskan samurai itu ketangannya
sendiri, ia pun merasa kaget dan juga senang mengetahui dirinya anti terhadap
senjata, ia pun lalu berbaring di tempat tidur sambil tersenyum, ia lalu
memejamkan matanya dan tidur. Besok paginya dengan menggunakan motor Harley ia
menuju ke perusahaan tempat ia bekerja. Sesampainya di sana ia melihat
teman-temannya berkumpul membicarakan sesuatu.
Jerry :
(menghampiri)
Hey …….ada apa ini pada ngumpul
Teman 1 : Ini
…..lagi bicarakan soal pedang
Jerry :
(heran) pedang
Teman 2 : Iya ….
Jadi baru-baru ini, telah ditemukan sebuah pedang yang
sudah berumur ratusan tahun
Jerry :
Lalu …..dimana pedang itu ditemukan ?
Teman 3 :
Menurut informasi …… pedang ini terkubur di bekas lokasi yang
diduga bekas sebuah kerajaan. Dan anehnya …..pedang ini
ditemukan dalam kondisi bagus seperti pusaka-pusaka yang
terawatt pad umumnya
Jerry :
Tapi ……pedang itukan sudah berumur ratusan tahun
Teman 4 : Benar
……dan itulah yang membuat banyak orang tertarik untuk
melihatnya
Jerry : Lalu
…..dimana pedang itu sekarang ?
Teman 1 : Pedang
itu sekarang di simpan di sebuah museum
Jerry :
(terdiam dan berkata dalam hati)
(Pedang itu adalah milik leluhurku, hanya aku
yang berhak
menyimpannya, aku harus mengambilnya, untuk menuntaskan
dendam
leluhurku)
Sementara itu, ditempat
lain, Andre sudah berpakaian rapi dan hendak berangkat kerja ke kantor, ia pun
menuju ke mobil sedan miliknya dan berangkat. Namun ditengah perjalanan ketika
sedang asyik mengemudi, tiba-tiba muncul sebuah truk dari arah yang berlawanan
dengan kecepatan tinggi ia pun kaget dan berusaha menghindari tabrakan, tapi
justru mobilnya tergelincir dan terbalik. Andre pingsan tak sadarkan diri dalam
mobil beberapa waktu kemudian ia pun sadar dan sudah berada di rumah sakit.
Andre :
(membuka mata)
Dimana aku
(ia pun bangun lalu jalan keluar kamar dan
seseorang suster tiba-
tiba menghampirinya)
Suster :
Maaf …….saudara tidak boleh ke mana-mana dan harus istirahat
Andre : Saya
tahu suster …….tapi …….percayalah saya baik-baik saja
Suster :
Tapi dokter mengatakan anda harus istirahat untuk pemeriksaan
lebih lanjut
Andre : Saya
mengerti ……tapi anda lihat sendirikan suster saya baik-
baik saja
Suster :
Maaf …..tapi dokter telah memerintahkan demikian
Andre :
Baiklah ……baiklah
(lalu mengantarkan Andre ke kamar)
Malamnya kira-kira pukul
tujuh dengan pakaian serba hitam, layaknya seorang bandit, Jerry pun berangkat
dari rumah menuju ke museum dengan motor Harley miliknya. Sesampainya di depan
museum, ia melihat beberapa mobil petugas yang diparkir di depan museum, ia pun
lalu memarkir motornya dan masuk ke dalam museum di sana ia melihat para
petugas, para pegawai museum. Para pengunjung dan para wartawan yang sedang
mengambil gambar pedang tersebut, dengan gagah ia berjalan mendekati pedang
itu, kemudian seorang petugas yang curiga dengan penampilan Jerry, langsung
menghampirinya.
Petugas 1 :
(memegang bahu Jerry)
Maaf ......anda tak boleh terlalu dekat
seperti ini
Jerry :
(berbalik, lalu mencekik leher petugas itu dengan tangan kirinya)
Pedang ini milik leluhurku
(lalu menghajar wajah petugas itu dengan
tangan kanan, petugas
itupun lalu terpental dan pingsan)
Para pegawai, pengunjung
dan para wartawan terkejut melihat kejadian tersebut. Mereka pun panik lalu
meninggalkan museum tersebut dengan menggunakan senjata para petugas memberikan
peringatan pada Jerry.
Jerry :
(hanya memandang para petugas tersebut)
Petugas 1 :
Hentikan ...!
Atau kami akan menembakmu
Jerry :
Persetan dengan kalian
Pedang ini milik leluhurku dan hanya akulah
yang berhak untuk
menyimpannya
(ia pun lalu mengambil pedang itu dan hendak
pergi)
Para Petugas : (lalu
menembaki Jerry dengan beberapa tembakan, mereka pun
kaget melihat Jerry yang masih berdiri tegak dengan tubuh yang
utuh tanpa mengeluarkan darah setetespun)
Jerry :
(hanya tersenyum)
Para Petugas : (lalu
menembaki Jerry kembali tanpa henti setelah dihujani
peluru, akhirnya Jerry pun jatuh terkapar mendatangi Jerry)
Petugas 1 : Kurasa
dia sudah mati
Petugas 2 : Tentu
saja ......kita menghujaninya dengan banyak peluru
Petugas 3 : Tunggu
dulu ......kenapa tubuhnya tidak mengeluarkan darah
Petugas 4 :
Sudahlah ...... kita bawa saja mayatnya ke rumah sakit
Pegawai Museum : (mendekati
seorang petugas)
Terima kasih pak
Petugas 1 : Tidak
apa-apa
Sudah kewajiban kami, kami permisi dulu
Pegawai Museum : Silahkan
Para petugas polisi itupun
pergi meninggalkan Museum tersebut sementara itu mayat Jerry telah di bawa ke
rumah sakit dan telah di simpan di ruang penyimpanan mayat. Tak lama kemudian
datang seorang wartawan dengan membawa kamera untuk mengambil gambar mayat
Jerry wartawan itupun diantar oleh petugas rumah sakit menuju ke ruang
penyimpanan mayat. Petugas itupun kemudian membuka lemari maya, namun tiba-tiba
ia terkejut melihat mayat Jerry bangun dan mencekik dirinya sang wartawan tak
ingin kehilangan moment berharga. Pada saat itulah dengan menggunakan kameranya
ia langsung mengambil gambar kejadian tersebut usai membunuh petugas rumah
sakit, Jerry pun mengincar wartawan tersebut. Ia lalu mendekatinya, namun sang
wartawan hanya terdiam ketakuta dan menjatuhkan kameranya, Jerry lalu mencekik
wartawan tersebut hingga tewas. Setelah itu ia pun keluar meninggalkan ruangan
tersebut. Namun beberapa orang petugas rumah sakit tersebut yang melihatnya
kemudian berlari ketakutan sambil berteriak ‘mayat hidup” tolong ada “mayat
hidup”, Jerry pun terus melanjutkan jalannya dengan tenang hendak meninggalkan
rumah sakit tersebut. Namun sama halnya dengan para petugas rumah sakit,
orang-orang yang berada di rumah sakit kaget dan merasa takut melihat sosok
Jerry yang bewajah garang. Kemudian beberapa orang petugas rumah sakit lainnya
mengejar Jerry dan berusaha melumpuhkan Jerry yang mereka anggap sebagai mayat
hidup. Perkelahian pun terjadi tetapi dengan kekuatan yang dimiliki Jerry para
petugas rumah sakit itupun nampaknya bukanlah lawan yang sepadan bagi Jerry,
Jerry pun berhasil menghajar para petugas rumah sakit tersebut. Jerry pun
dengan tenang dan gagah terus melanjutkan langkahnya, ia pun sampai di lobi
rumah sakit namun dua orang petugas keamanan rumah sakit tersebut berusaha
menghadang dan menghentikan Jerry.
Satpam 1 :
Berhenti .....(sambil menodongkan pentungan)
Jerry :
(hanya tersenyum dan menggelengkan kepala)
Satpam 2 :
(menghajar kepala Jerry dengan pentungan)
Jerry :
(tersenyum sambil memandang satpam tersebut)
Satpam 1 : (lalu
ganti menghajar wajah Jerry dengan pentungan)
Jerry :
(melotot pada dua satpam tersebut, lalu mencekik leher kedua
satpam tersebut hingga tewas, ia pun lalu pergi meninggalkan
rumah
sakit dan pergi membawa mobil orang yang di parkir di
depan
rumah sakit tersebut)
Sementara itu kira-kira
pukul setengah sepuluh malam, Andre terlihat keluar dari rumah sakit, ia pun
berjalan sambil menunggu taksi tak lama kemudian terlihat sebuah taksi. Andre
pun langsung memberhentikan taksi tersebut untuk menuju pulang ke rumah. Namun
beberapa kilometer sebelum sampai di rumahnya, tiba-tiba taksi yang
ditumpanginya di hadang oleh lima orang preman bersenjata tajam. Sang supir pun
merasa takut dan menghentikan taksinya.
Supir :
Mimpi apa aku semalam ?
Andre :
Siapa mereka pak ?
Supir :
Tidak tahu ......tapi sepertinya mereka punya niat jahat terhadap
kita
Andre :
Semoga tidak terjadi apa-apa
Kelima orang preman
tersebut lalu mendekati taksi dan menyuruh supirnya untuk keluar.
Preman 1 :
(sambil menggedor pintu mobil)
Hey ....cepat keluar
Supir :
(lalu keluar dari taksi)
Andre :
(keluar pula dari taksi)
Preman 2 :
(menodongkan pisau ke wajah supir)
Serahkan kunci mobil taksi ?
Supir :
(menyerahkan kunci mobil taksi)
Preman 3 :
(menodongkan pisau ke wajah Andre)
Cepat
berikan semua yang kau punya
Andre : Aku
tidak punya apa-apa ........sungguh
Preman 2 : (lalu
menghunuskan pisaunya ke perut supir itu lima kali hingga
tewas)
Andre :
(memandang supir yang di tikam)
Kalian keterlaluan .......
Preman 1 : Kami
akan melakukan hal yang sama padamu
Preman 3 : (lalu
menikam perut Andre berkali-kali)
Andre :
(terjatuh sambil memegang perutnya)
Preman 3 :
(tiba-tiba heran melihat pisaunya tak berlumuran darah, kemudian
empat orang preman lainnya memandangnya dengan heran)
Gila ........dia tidak tembus senjata tajam
Andre :
(heran melihat perutnya yang tak mengeluarkan setetes darahpun,
lalu memandang kelima orang preman tersebut, kemudian berdiri)
Preman 2 : (lalu
menghampiri Andre dan menghajar wajah Andre, lalu
membenturkan kepala Andre ke kaca mobil taksi tersebut, hingga
kaca di
mobil itu pecah, lalu memasukkan Andre ke dalam taksi
di bangku
belakang)
Preman 1 : (pada
saat yang bersamaan ia memasukkan mayat supir tersebut
ke bangku depan mobil taksi tersebut, dia lalu menyalakan mobil
tersebut, dia bermaksud agar mobil tersebut tersambar kereta
ketika melewati rel yang memotong jalan tersebut)
Andre :
(berusaha menghentikan laju mobil taksi tersebut, tapi sayang ia
terlambat mobil pun melewati rel dan seketika itu pula taksi itu
tersambar oleh kereta, taksi pun terdorong dan terbalik ke sisi rel,
kereta terus melintas sementara taksi itupun ringsek, tapi lagi-lagi
Andre selamat bahkan tak ada luka ditubuhnya, ia pun berhasil
keluar dari taksi itu dengan napas terhela, ia melihat keadaan
tubuhnya sendiri dengan heran sambil menggelengkan kepala)
Ia pun kemudian berjalan
selangkah demi selangkah menuju ke rumahnya. Akhirnya ia pun sampai di
rumahnya, ia pun langsung menuju ke dapur dan mengambil segelas air putih untuk
di minum. Usai minum ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dapur.
Andre :
(mengusap wajahnya)
(melepas napas) Huhhhh.........ini kali kedua
aku mengalami
kecelakaan
........tapi .......tak sedikitpun tubuhku terluka. Apa
yang aku
alami sebenarnya ......apa aku tidak normal.....atau ini
hanya
sekedar ilusi, kejadian ini benar-benar sulit ku mengerti
Tak lama kemudian muncul
sosok seorang kakek tua berjanggut panjang dan berjubah putih panjang.
Kakek : Kau
tidak perlu heran dan juga bingung
Andre :
(terkejut)
Siapa kau ?
Kakek : Aku
adalah leluhurmu dan kau adalah generasi terakhirku dalam
darahmu mengalir kekuatanku .......jadi kau tidak perlu heran
dengan apa yang kau alami selama ini
Andre :
Mustahil ....! aku tidak percaya ini
Kakek : Kau
boleh percaya ataupun tidak percaya akan hal ini ....tapi satu
hal yang harus kau tahu ada seorang generasi terakhir dari
musuhku yang sedang berusaha mencari dan ingin membunuhmu.
Andre : Aku
semakin tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan
Pertama .... kau mengaku sebagai leluhurku
Kedua ..... kau bilang kalau aku sedang
diburu oleh orang yang
terikat dendam denganmu. Ini benar-benar membuatku semakin
bingung saja
Kakek : Nanti
.......kau akan mengerti dengan sendirinya.......percayalah
Kemudian sosok Kakek
itupun hilang dari hadapan Andre, ia pun kemudian menuju ke kamarnya untuk
istirahat karena telah ....Besok sorenya kira-kira pukul empat dengan membawa
senjata kokang Jerry kembali mendatangi museum dengan menggunakan mobil Kijang
dan berpakaian serba hitam. Dengan gagah sambil memegang senjata, ia pun
berjalan memasuki museum, lalu ia pun menembaki pegawai museum dan menodongkan
senjata pada seorang pegawai museum lainnya.
Jerry :
Mana pedang itu
Pegawai : (dengan
perasaan takut)
Ada pak ?
Jerry :
Cepat ambilkan untukku .....kalau tidak .....aku akan
menghancurkan gedung ini
Pegawai : Baik
pak
(lalu pergi mengambil pedang tersebut, tak
lama kemudian, ia pun
kembali membawa pedang dan menyerahkannya pada Jerry)
ini pedangnya
Jerry :
(menerima pedang tersebut sambil tersenyum)
Bagus .......!
(lalu menembak pegawai museum tadi hingga
tewas)
Jerry kemudian keluar dari
museum dan menuju mobilnya untuk memburu Andre, sementara di tempat lain Andre
baru saja terlihat keluar dari kantor Akuntan tempat ia bekerja menuju mobilnya
untuk pulang mobil itupun segera meninggalkan tempat tersebut, tak lama
kemudian baru beberapa kilometer mobil Andre meninggalkan tempat kerjanya Jerry
pun tiba-tiba muncul dengan mobilnya tepat dibelakang mobil Andre, ia pun
langsung menembaki mobil Andre dengan senjata kokangnya dari belakang, Andre
pun terkejut dan langsung tanjap gas, Jerry pun tak mau ketinggalan ia pun
tancap gak dan terus membututi mobil Andre dan terjadilah kejar-kejaran.
Akhirnya mereka tiba di pelabuhan Andre segera keluar dari mobilnya dan berlari
menuju ke sebuah gudang. Jerry pun mengikuti dengan membawa senjata kokang dan
juga pedang. Andre pun bersembunyi di dalam gudang, Jerry lalu masuk ke gudang,
namun ia tak mendapati Andre.
Jerry :
Keluarlah ......! (dengan suara keras)
Aku tahu kau bersembunyi .... mari kita
tuntaskan dendam kita
Andre :
(melihat dari persembunyian)
Jerry :
(berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri)
Andre :
(terus mengawasi Jerry)
Jika benar apa yang dikatakan kakek itu tadi
malam .... maka
dialah orang yang dimaksud kakek tadi malam ......orang yang
ingin membunuhku
Jerry :
(berhenti berjalan, lalu meletakkan pedang dan sejantanya)
Baiklah ......kalau kau takut ....aku tidak
akan menggunakan
senjata
Keluarlah ......kita bertarung secara adil
......
Apa lagi yang kau takutkan
Andre :
(secara tidak sengaja melihat sebuah gergaji mesin disebelahnya)
Terima kasih tuhan
(lalu keluar dan mendatangi Jerry dengan
gergaji mesin itu)
Jerry :
(Tersenyum)
Senjata yang bagus
Andre :
(lalu memotong leher Jerry dengan gergaji mesin itu hingga
putus, tetapi ia bingung melihat kepala dan tubuhnya masih
bergerak, ia pun lalu meletakkan gergaji mesin itu dan mengambil
senapan kokang Jerry, lalu pergi meningglkan tempat tersebut)
Jerry :
(Tubuh dan kepalanya lalu menyatu kembali lalu ia berdiri
kembali sambil tersenyum)
Kau tidak akan bisa membunuhku ......akulah
yang akan
membinasakanmu
(lalu menuju ke mobil untuk mengejar Andre)
Andre :
(Terus mengemudikan mobilnya, meninggalkan tempat tersebut,
lalu ia terkejut melihat mobil Jerry sedang mengejarnya, ia pun
lalu menghentikan mobilnya dan keluar memegang senjata tepat
setelah mobl Jerry melintasi drum-drum yang berisi bensin,
Andre menembaki drum-drum yang berisi bensin tersebut, hingga
meledak, mobil Jerry pun ikut meledak terbakar dan Andre pun
mengira bahwa Jerry pasti sudah mati terbakar dalam mobil yang
meledak tadi, lalu menyandarkan tubuhnya ke mobil sambil
mengatur napas, lalu meletakkan senjatanya ke dalam mobil, tiba-
tiba ia terpana melihat Jerry keluat dari kobaran api, tanpa luka
sedikit pun di sekujur tubuhnya, Andre pun ketakukan, ia cepat
masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut untuk
kembali ke rumahnya)
Jerry :
(Terus berjalan menjauhi kobaran api, ia pun berhenti setelah
melihat mobil Andre meninggalkan tempat itu
ia pun lalu
tersenyum)
Cepat ataupun lambat ......aku pasti akan
membunuhmu .....dan
pada saat itulah .....kau takkan bisa lari lagi dariku ....walaupun
hanya selangkah
(ia pun lalu berjalan meninggalkan tempat
tersebut)
Akhirnya kira-kira pukul
tujuh malam. Andre tiba di rumahnya, ia langsung menuju ke dapur untuk minum,
setelah itu ia duduk di ruang tamu sambil mengusap wajahnya.
Andre :
Siapa sebenarnya yang aku hadapi ?
Kenapa ia sulit untuk dibunuh ?
Kalau begini caranya ...... aku bisa mati
(Sambil menundukkan kepala)
Apa yang harus aku lakukan ?
Tak lama kemudian sosok
kakek tiba-tiba muncul kembali di hadapan Andre.
Kakek : Dia
bukan sulit untuk di bunuh ...... dia juga seperti manusia pada
umunya ......hanya saja kau belum mengetahui letak
kelemahannya dan juga senjata apa yang harus kau gunakan
Andre : Lalu
...... bagaimana carnya .....aku penggal kepalanya ..... dia pun
tidak mati ...... lalu aku membakarnya ....... ia pun tidak mati .......
bahkan terluka pun tidak
Kakek : Kau
tidak perlu takut ........
Sebenarnya kau dan dia hampir sama ...... kau
tidak bisa
melukainya begitu pun juga dia untuk membunuhnya ...... kau
harus
mengambil pedang sakti di sebuah goa
Andre : Apa
itu pedang milikmu ?
Kakek : Benar
...... pedang itulah yang kugunakan untuk membunuh
leluhurnya ratusan tahun silam ....... jika kau sudah mendapatkan
pedang itu ....... baru kau bisa membunuhnya ...... caranya ...... kau
tebaskan pedang itu ke lehernya, tetapi jangan sampai putus....
dengan begitu dia akan mati ... untuk itu .... pergilah ! Ambil
pedang itu dan hentikan dia.... sebelum jatuh banyak korban.
Andre : Tapi
..... aku tidak tahu dimana goa itu ?
Kakek :
Jangan khawatir ....... akan ada kekuatan yang tak terlihat akan
menuntunmu
ke sana ..... pergilah sekarang juga ..... jangan buang
waktu.
(kemudian
menghilang dari hadapan Andre setelah memberi
petunjuk)
Andre :
(Lalu ke kamar dan bersiap-siap untuk berangkat menuju goa)
Andre pun lalu menuju ke
mobilnya dan berangkat, setelah larut malam, Andre tiba di tempat tujuan,
kemudian ia berjalan selangkah demi selangkah menuju goa. Akhirnya ia sampai di
goa itu ia pun lalu masuk ke dalam goa dan melihat sebuah pedang berkilau yang
tertancap di dinding goa, ia pun menghentikan jalannya sejenak.
Andre : Apa
itu pedang yang di maksud ?
Kalau begitu .... aku tidak boleh buang waktu
(lalu mengambil pedang itu dan meninggalkan
goa itu menuju ke
mobilnya untuk pulang)
Paginya kira-kira pukul
delapan beberapa orang polisi yang dipimpin oleh Sersan Janie menggrebek rumah
Jerry. Namun mereka tidak menemukan apa-apa.
Petugas 1 : Lapor
...! kami tidak menemukan apa-apa
Sersan Janie :
(memeriksa kamar Jerry)
(kemudian ia tertegun melihat sebuah foto
bertuliskan “Andre”
disilang spidol merah)
(kemudian menemui petugas)
Kalian ikut aku
Sersan Janie pun pergi
bersama beberapa orang petugas polisi menuju ke rumah Andre. Sementara itu
Andre baru saja tiba di rumahnya. Ia pun langsung duduk di ruang tamu dan
memperhatikan pedang itu dengan seksama, kemudian ia meletakkannya ke meja ia
pun lalu hendak ke dapur untuk minum tapi belum ia sampai ke dapur, ia
mendengar suara orang mengetuk pintu, ia pun segera menyembunyikan pedang itu
ke kamar, setelah itu ia membukakan pintu.
Andre :
(membuka pintu)
Sersan Janie :
(ditemani beberapa orang petugas dibelakangnya)
Maaf ...... apa anda yang bernama Andre
Andre :
Benar ........ ada apa ?
Silahkan masuk ?
Sersan Janie :
(ditemani beberapa orang petugas lalu masuk dan duduk)
Sebelumnya kami minta maaf ..... karena telah
mengganggu anda
Andre :
Tidak apa-apa
Ada apa sebenarnya ?
Sersan Janie : Begini
...... ada seorang pembunuh yang masih buron .... ingin
membunuh anda
Andre :
(pura-pura tidak tahu)
Benarkah ?
Sersan Janie : Benar
..... sebelumnya di telah membunuh polisi, pegawai
museum, pegawai rumah sakit dan juga seorang wartawan dan dia
juga telah mencuri sebuah pedang kuno yang berumur ratusan
tahun.
Andre : Lalu
apa hubungannya denganku ..... kenapa dia ingin
membunuhku
Sersan Janie : Itulah
yang sedang kami selidiki ..... dan saya berharap kau bisa
ikut dengan kami, demi keselamatanmu
Andre :
Baiklah .......
Sersan Janie dan beberapa
orang petugas polisi lalu membawa Andre ke sebuah apartemen, sementara itu di
sebuah gudang di pelabuhan Jerry sedang memasang lilin-lilin yang di letakkan
di sisi gudang itu, lilin tu akan dinyalakan pada saat bertarung dengan Andre
nanti malam, karena Jerry sudah tahu kalau Andre telah mengambil pedang milik
leluhurnya. Jerry lalu menodongkan pedang layaknya prajurit yang akan
berperang.
Jerry :
(menodongkan pedang)
Hari ini adalah hari terakhir penantian
dendam
Hari ini aku akan menebus dendam leluhurku
yang telah tertunda
selama ratusan tahun
Aku akan mengambil jantungnya untuk pesta kemenanganku
(lalu meletakkan pedangnya di atas meja
kecil)
Sorenya kira-kira pukul
tujuh di Apartemen milik Janie, Andre, Sersar Janie dan beberapa orang petugas
polisi sedang menyantap Pizza. Kemudian telepon pun berdering, Andre pun lalu
mengangkat telepon.
Andre : Halo
?
Jerry :
Apa kau sudah siap ?
Aku tahu kau telah mengambil pedang leluhurku
Andre :
Bagaimana kau tahu ?
Jerry :
Aku bisa mengetahuinya dengan telepati ..... itulah sebabnya aku
tahu .... dan itu pula yang membuatku tahu ..... kalau sekarang kau
berada di sebuah Apartemen milik seorang Sersan Polisi ..... dan
sekarang ..... kau tidak punya
alasan untuk bersembunyi dariku
Andre : Aku
tidak takut padamu ...... dan harusnya kaulah yang takut
padaku
Jerry :
(tertawa)
Kenapa aku harus takut padamu ?
Andre :
Karena aku memiliki pedang sakti ...... pedang yang digunakan
untuk membunuh leluhurmu
Jerry :
Lain dulu ..... lain sekarang
Asal kau tahu ..... petarungan kali ini
berbeda dengan pertarungan
leluhurku kita ratusan tahun lalu
Sekarang aku lebih kuat darimu...... dan kau
telah menyaksikan
itu .... jadi ..... kaulah yang akan mati
Andre :
(tersenyum)
Kau tidak perlu menakutiku seperti itu ....
dan kau pasti pernah
mendengar sebuah ungkapan “sejarah sangat sulit untuk
ditundukkan” dan kau butuh keajaiban untuk menaklukan sejarah
Jerry :
Kalau kau sudah seyakin itu ..... datanglah ..... aku sudah tidak
sabar
untuk mengambil jantungmu
Andre :
(menutup telepon)
Sementara Sersan Janie dan
beberapa orang petugas polisi yang mendengar percakapan Andre di telepon hanya
terdiam memandang Andre.
Sersan Janie : Bisa
kau jelaskan pada kami
Andre :
Tidak ..... kalian tidak akan mengerti ?
Sersan Janie :
Ternyata semua ini berhubungan dengamu kenapa tidak kau
jelaskan pada kami
Andre : Aku
sudah bilang .... kalian tidak akan mengerti awalnya aku saja
tidak percaya akan hal ini
Sersan Janie : Tapi
adalah tanggung jawab kami untuk menuntaskan semua ini
Andre :
Tidak .... kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa ?
Sersan Janie : Baiklah
! kalau begitu ...... jelaskan pada kami
Andre :
Begini....... dia mengejarku karena ingin membalas dendam
Sersan Janie : Apa kau
sudah membunuh orang terdekatnya
Andre :
Bukan ...... dahulu leluhurku dan leluhurnya adalah seorang Raja
Kemudian mereka terlibat sebuah pertarungan,
dalam pertarungan
itu leluhurku berhasil membunuh leluhurnya, tapi sebelum mati ia
bilang akan menuntut dendam pada keturunan leluhurku dan itu
sebabnya pula kenapa dia (Jerry) mencuri pedang kuno di
museum pedang itulah yang digunakan leluhurnya dulu untuk
bertarung dengan leluhurku.
Sersan Janie : Jadi
maksudmu ..... tujuan utamanya mencuri pedang itu adalah
untuk membalas dendam leluhurnya padamu
Andre :
Benar .... dan aku harus menghadapinya sekarang
Sersan Janie : Tidak
....... bukan kau yang akan menghadapinya ......tetapi kami
Andre : Apa
(terkejut)
Jangan gegabah ...... peluru dan borgol yang
kau siapkan tidak
akan mampu menahannya dia kebal terhadap senjata ..... bahkan
aku membakarnya ...... tapi dia tidak terluka sedikit pun, jadi
menurutku ..... kalian tidak usah ikut campur dalam hal ini .....
serahkan saja padaku ...... biar aku yang menangani semua ini dan
berjanjilah padaku .... cukup kalian saja yang tahu masalah ini
dan juga aku dan jangan orang lain tahu
Sersan Janie : Terima
kasih atas nasehatnya ..... tapi semuanya sudah jelas .....
kau tunggu disini saja ..... biar aku yang akan meringkusnya
Di mana dia sekarang ?
Andre :
(memberitahukan dengan berat hati)
Di sebuah gudang di pelabuhan ..... jangan
salahkan aku jika
terjadi apa-apa
Sersan Janie : Tidak
...... tidak akan
Petugas ikut aku ..... kita harus segera ke
sana untuk
meringkusnya
(mereka pun menuju ke mobilnya untuk
berangkat ke pelabuhan
guna menangkap Jerry)
Andre : (menggelengkan kepala, tak lama kamu dan
ia pun meninggalkan
Apartemen dan pulang ke rumahnya untuk mengambil pedang
karena ia khawatir terjadi sesuatu dengan Sersan Janie dan
beberapa orang petugas polisi lainnya)
Sementara itu di gudang
tempat persembunyian Jerry, lilin-lilin pun telah di nyalakan sebagai pertanda
bahwa pertarungan dengan musuhnya. Andre akan berlangsung, Jerry sendiri sedang
berdiri di hadapan pedang yang diletakkannya di atas sebuah meja kecil sambil
memejamkan kedua matanya dan juga sambil tulak pinggang, tak lama kemudian
Sersan Janie dan beberapa orang petugas polisi yang bersamanya langsung masuk
menggerebek gudang tersebut, Sersan Janie pun mendapati Jerry di sana.
Sersan Janie :
(menodongkan senjata ke arah Jerry)
Jangan bergerak ! menyerahlah ....!
Jerry :
(membuka mata dan berbalik)
Aku tidak mengundang kalian .... jadi
sebaiknya pergilah sebelum
aku berubah pikiran
Sersan Janie : Sudah
ingin tertangkap saja kau masih sombong petugas borgol
dia dan bawa ke kantor polisi
Jerry :
(melotot)
Kemudian dua orang petugas
tadi membawa borgol dan menghampiri Jerry, tapi Jerry yang kelihatan marah
langsung mencekik leher dua orang petugas tadi, sementara Sersan Janie dan dua
orang petugas lainnya hanya diam seraya heran melihat kejadian tersebut, dua
orang petugas tadi pun tewas. Sementara Sersan Janie dan dua orang petugas
laiinya langsung mengeluarkan pistol dan menembaki Jerry, setelah diberondong
peluru Jerry pun jatuh terkapar. Sersan Janie dan dua orang petugas tadi
kemudian mendekati Jerry, untuk memastikan apakah dia sudah tewas atau belum
namun mereka terkejut melihat tubuh Jerry yang tak mengeluarkan setetes darah
pun. Mereka saling memandang satu sama lain seraya heran dan tiba-tiba rasa
heran mereka pun terjawab, Jerry tiba-tiba bangkit kembali di hadapan mereka,
Jerry pun langsung mencekik leher Sersan Janie, Sersan Janie pun terkejut dan
berteriak “Ahhh .... kemudian petugas polisi tadi coba menghajar Jerry dengan
tangan kanan tetapi berhasil di tangkis dan dipelintir oleh tangan kiri Jerry,
setelah itu Jerry pun membenturkan kepalanya ke wajah petugas tadi, petugas
tadi pun jatuh terpental dan pingsan, lalu seorang petugas polisi satunya juga
coba menghajar Jerry. Namun Jerry lebih dulu menyerangnya, Jerry menendang
perut petugas tadi hingga terpental, petugas itupun pingsan, sementara Sersan
Janie sudah tak berdaya menahan cekikan Jerry, wajahnya pun memerah.
Jerry :
(mencekik leher Sersan Janie dengan tangan kanan)
Seandainya kau mau mendengarkan perkataanku
tadi .....
Mungkin aku masih bisa mengampunimu .....
tapi ....
Karena kau telah berusaha merusak pestaku
.... maka aku
membunuhmu
Tiba-tiba Andre datang dengan membawa pedang milik leluhurnya.
Andre :
Hentikan ...!
Kau hanya menginginkan aku ..... jadi
lepaskan dia
Jerry :
(terkejut)
Untuk kau cepat datang ..... karena kalau
tidak gadis ini pasti
sudah mati di tanganku
(lalu melepaskan cekikannya)
Sersan Janie : (lalu
berjalan mendekati Andre sambil memegang lehernya
kesakitan)
Andre : Kau
tidak apa-apa ?
Sersan Janie : Untung
kau datang ..... terlambat sedikit saja lain ceritanya
Andre :
Sekarang kau percaya bukan
Menyingkirlah ..... biar aku yang selesaikan
ini
Sersan Janie :
Berhati-hatilah .....!
(lalu menyingkir ke sisi gudang)
Andre :
Menyerahlah selagi ada kesempatan ...... sebelum kau menyesal
Jerry :
(hanya tersenyum)
Kelihatannya kau sangat percaya diri
Apa kau sanggup membunuhku
Andre :
Kenapa tidak ?
Asal kau tahu .... kau telah mengulangi
kesalahan yang di buat
oleh leluhurmu ..... yaitu tidak mau menyerah di saat yang tepat
Jerry :
(tersenyum)
Kau benar-benar tidak jauh berbeda dengan
leluhurmu, sangat
percaya diri
(lalu mengedepankan pedang seraya siap
bertempur)
Andre :
(bersiap dengan pedangnya)
Lalu mereka pun mendekat dan mulai bertarung dengan pedang.
Pertarungan pun berjalan
sengit dan seimbang, akhirnya setelah bertarung agak lama, Jerry berhasil
melukai tubuh Andre dengan pedangnya, Jerry pun menendang tubuh Andre dengan
kaki kanan hingga terlentang. Andre pun bangkit, ia lalu coba menebaskan
pedangnya, tetapi Jerry lebih dulu menebas rusuk Andre lalu menghajar wajah
Andre dengan tangan kiri. Membuat Andre jatuh tertelungkup dan hidung Andre pun
mengeluarkan darah. Pada saat itulah ia terdiam sejenak ia teringat apa yang
pernah di katakan leluhurnya tentang kelemahan Jerry. Andre pun bangkit
kembali, Jerry lalu menebaskan pedangnya ke arah kepala Andre, tetapi Andre
berhasil menahan dengan pedangnya, ia lalu menendang perut Jerry dengan kaki
kiri, dilanjutkan dengan tendangan balik kaki kanan ke arah wajah Jerry,
membuat Jerry terjatuh. Jerry pun berusaha bangkit kembali sambil menghapus
darah yang keluar dari hidungnya, ia pun coba lagi-lagi menebaskan pedangnya ke
arah kepala Andre, namun Andre lebih cepat menebaskan pedangnya ke leher Jerry.
Jerry pun mundur dan jatuh berlutut di topang pedang, setelah itu ia pun
tersungkur tak bernyawa lagi. Andre kemdian mengambil pedang Jerry, ia lalu
menghampiri Sersan Janie.
Sersan Janie : Apa kau
yakin dia sudah mati ?
Andre :
Tentu ..... bawalah pedang ini dan letakkan kembali di museum
Sersan Janie : Terima
kasih ..... aku berhutang padamu
Andre :
Tidak apa-apa
Sersan Janie :
Bagaimana kalau besok aku mentraktirmu minum kopi di cafe
Andre : Aku
tidak bisa menolak tawaran wanita cantik sepertimu .....
Oh maaf ..... maksudku Sersan Janie
Sersan Janie : (hanya
tertawa)
(lalu pergi membawa pedang dengan mobilnya
meninggalkan
gudang tersebut)
TAMAT